Selasa, 17 Januari 2012

pemerkosaan SPG

Cerita ini muncul karena ulah sales promotion girl(SPG ) sombong yang menjaga pameran otomotif di salah satu mall  di kotaku. Pada waktu itu aku dan teman-temanku (berempat) sedang jalan-jalan ke mall  itu, lalu kami melihat ada pameran mobil di sana. Iseng-iseng aku dan teman-teman melihat mobil-mobil yang memang keren-keren itu, meskipun penampilan kami memang sangat jauh dengan pengunjung-pengunjung lainnya yang rapi-rapi. Sekalian cuci mata juga, soalnya para sales promotion girl(SPG )-nya cantik-cantik dan putih-putih serta mulus-mulus, mereka memakai rok mini yang benar-benar serasi dengan tubuh mereka yang langsing dan tinggi, kaki mereka yang jenjang sangat indah dipandang dari ujung kaki sampai ke paha yang terbalut rok mini ketat warna merah. Wajah mereka yang rata-rata Indo seperti bintang sinetron sangat menyenangkan untuk dipandang, memang sangat cocok untuk mendampingi mobil-mobil mewah yang sedang dipamerkan. Sambil melihat, kupegang-pegang saja mobil yang di pamerkan dan kucoba membuka dan metutup salah satu pintunya.
Tiba-Tiba..., Mas, tolong kalau mau lihat ya dilihat saja, jangan dipegang-pegang, nanti harus dibersihkan lagi, aku menoleh ke arah teguran itu berasal, ternyata teguran tersebut berasal dari salah seorang sales promotion girl(SPG ) yang cantik, meskipun aku tersinggung, aku sempat tertegun melihat paras dan body cewek sales promotion girl(SPG ) yang satu ini. Wajah sales promotion girl(SPG ) yang ini seperti campuran Indo Belanda, kebarat-kebaratan seperti itulah. Masih setengah sadar, sales promotion girl(SPG ) itu ngomong lagi, Tolong minggir dulu ya.. ini ada pembeli yang mau lihat. Aku menoleh ke sekitar, Mana pembelinya.. pikirku, yang ada masih lihat-lihat mobil di sebelah, kali ini aku serasa benar-benar dilecehkan oleh sales promotion girl(SPG ) itu, dalam pikiranku, Sombong sekali cewek satu ini... padahal kan dia juga sebagai penjaga, belum tentu bisa beli mobil itu juga.
Sambil berpikir begitu, tak terasa aku bertatap pandang dengan gadis sales promotion girl (SPG ) itu, yang lebih mengesalkan wajahnya seakan-akan melihatku sebagai makhluk yang tidak sepantasnya berdiri di situ. Kulihat juga senyumnya yang benar-benar menyebalkan, seolah-olah menantang dan sudah menang. Seraya tersenyum aku minggir juga. Ayo, cabut! aku mengomando teman-temanku dengan nada yang masih kesal karena pelecehan tadi. Aku langsung mengarahkan mereka ke tempat parkir dengan tidak menyembunyikan wajah yang kesal. Mobil Espass kami pun meluncur. Sepanjang perjalanan, kami terdiam, teman-temanku tahu aku masih kesal, jadi mereka agak malas ngomong. Setelah beberapa saat Aris yang memegang kemudi memecah kesunyian, Kenapa lu? masih kesal sama sales promotion girl(SPG ) itu? tanyanya kepadaku. Belum sempat aku menimpali, Lukman buka suara, Lu nggak remas aja bokongnya, biar tau rasa dia. Tawa mereka berderai, tapi aku masih diam, melihat gelagatku yang tidak bisa diajak bercanda, teman-temanku ikutan diam. Tiba-Tiba Mamat mengeluarkan ide bagus, Eh.. gimana kalo kita culik aja tuh cewek! Hatiku yang kesal ini bagaikan mendapat siraman air yang menyegarkan, Betul juga, pikirku, Biar ntar dia rasain gimana akibatnya kalau melecehkan aku Aku tersenyum menyeringai ke arah Mamat, dan kami langsung memutar mobil ke arah mall  itu lagi. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, mulai terlihat karyawan-karyawan dari mall  tersebut keluar untuk pulang.
Kami dengan sabar menunggu di depan mall  itu sambil mengawasi orang-orang yang keluar. Gimana kalau keluar dari samping pertokoan? tanya Lukman. Ah.. ya berarti nasibnya beruntung, jawabku cepat. Itu! itu! Mamat setengah berteriak menunjuk ke suatu arah. Mata kita semua langsung menjelajah ke arah yang ditunjuk Mamat. Bagus! pikirku ketika melihat si sales promotion girl(SPG ) berjalan keluar mall  untuk mencari kendaraan. Dia bersama seorang temannya yang kelihatannya sales promotion girl(SPG ) juga, sudah mengenakan sehelai kain untuk menutupi roknya yang mini, mereka berjalan menelusuri trotoar, rupanya rute angkutannya bukan di jalan ini. Kami segera membuntutinya pelan-pelan sampai mereka berhenti di perempatan yang sudah dikuasai oleh banyak angkota. Mereka langsung masuk ke salah satu bemo yang ada, begitu bemo tersebut berangkat, kami pun langsung mengikutinya.
Sampai di sebuah jalan, yang untungnya sepi sehingga sangat mendukung operasi kami ini, si sales promotion girl(SPG ) turun. Tidak sedikit pun dia menaruh curiga bahwa sebuah mobil telah mengikuti angkutannya sejak tadi. Setelah bemo tersebut meninggalkannya cukup jauh, kami mulai mendekati sales promotion girl(SPG ) itu yang kelihatannya masih harus berjalan kaki untuk mencapai rumahnya. Tanpa buang-buang waktu Aris mensejajarkan mobil kami di samping sales promotion girl(SPG ) itu dan Mamat langsung membuka pintu samping Espass. Kulihat sales promotion girl(SPG ) tersebut terkejut melihat ada mobil yang sangat dekat dengan dirinya, dan tanpa disadari tangan Mamat sudah merenggut tangan dan menarik tubuhnya ke dalam mobil. Srreeekkk..., pintu samping ditutup, mobil kami langsung melaju tanpa bekas, sementara si sales promotion girl(SPG ) masih kebingungan dan akan berteriak, tetapi dengan sigap Lukman langsung menutup mulutnya sehingga yang terdengar hanya gumaman. Si sales promotion girl(SPG ) mencoba meronta, namun sebuah pukulan ditengkuknya yang diluncurkan oleh Mamat membuatnya langsung pingsan. Aku menoleh ke belakang, Lukman dan Mamat tersenyum memandangku seolah-olah ingin menyatakan bahwa operasi penculikan sudah berhasil. Kulihat kain yang menutupi rok mininya tersingkap, dan meskipun di dalam mobil gelap, aku masih dapat melihat pahanya yang mulus. Mamat pun tak tahan langsung memijat dan meraba paha yang mulus itu. Mobil kami langsung meluncur ke rumah Aris yang memang kosong dan biasa sebagai tempat kami berkumpul. Setelah sampai dan memarkir mobil di garasi, kami menggendong sales promotion girl(SPG ) yang masih pingsan itu ke dalam kamar.
Di sana kami mengikatnya pada kursi kayu yang ada. Aku duduk di ranjang menghadap sales promotion girl(SPG ) yang masih lunglai itu yang terikat di kursi kayu. Teman-temanku kelihatannya memang menghadiahkan sales promotion girl(SPG ) itu ke padaku untuk diperlakukan apa saja. Mat... ambilin air. Mamat keluar kamar dan tak lama masuk dengan segelas air yang disodorkan kepadaku. Aku berdiri dan menyiramkan pelan-pelan ke wajah sales promotion girl(SPG ) itu. Ketika sadar, sales promotion girl(SPG ) itu terlihat sangat terkejut melihatku di depannya, Kamu... katanya seraya menggerakkan tubuhnya, dan dia sadar kalau tubuhnya terikat erat di sebuah kursi. Kali ini aku yang tersenyum, senyum kemenangan. Mau apa kamu? masih dengan sombong sales promotion girl(SPG ) itu bertanya setengah menghardik kepadaku. Kalau kamu macam-macam, aku akan teriak, lanjutnya lagi. Aku hanya tersenyum, Silahkan saja teriak, nggak bakal terdengar kok, kataku sambil menyalakan tape si Aris, kebetulan lagunya dari band Metallica, Unforgiven, kusetel agak keras, meskipun aku yakin bahwa kamar Aris letaknya terisolir, jadi tidak mungkin teriakannya didengar orang lain. Ketakutan mulai terlihat di wajah sales promotion girl(SPG ) itu, wajahnya yang cantik sudah mulai terlihat memelas memohon iba. Namun kebencian di hatiku masih belum padam, aku ingin memberinya pelajaran!. Siapa namamu? tanyaku dengan nada datar. Anita , jawabnya. Ampun Mas, maafkan aku, aku disuruh boss untuk bersikap begitu, katanya seolah membela diri. Tidak peduli dengan pembelaan dirinya, langsung kusibakkan kain yang menutupi roknya, lalu dengan kasar kutarik roknya hingga ke pangkal paha. Anita  menatapku ketakutan, Jangan, jangan Mas... ucapnya memelas seakan tahu hal yang lebih buruk akan menimpa dirinya.
Lagi dengan kasar kutarik bajunya sehingga kursi yang didudukinya bergeser dan kancing bajunya hampir lepas semua. Terlihat oleh kami bulatan toked yang masih tertutup BH berwarna putih. Tak tahan melihat itu Aris dan Mamat yang berdiri di sampingnya langsung meremas-meremas toked itu. Anita  sangat ketakutan, ditengah ketakutannya dia berusaha meronta, namun hal itu semakin meningkatkan nafsu kita. Jari-jariku langsung meraba secara liar daerah liang vaginanya yang masih tertutup CD, mengelus dan berputar-putar dengan lincah dan sekali-sekali mencoba menusuk. Tidakkk.. tidakkk.. Anita  berkata lirih seolah ingin menolak takdir. Breetttt... breettt... kubuka dengan paksa seluruh baju Anita sehingga yang terlihat hanya BH dan CD-nya saja. Naikkan ke atas meja, kataku, serta merta ketiga temanku langsung bekerja sama memegangi Anita  dan mengikatnya di atas meja. Anita  meronta-ronta sekuat tenaga namun tentu saja usahanya tidak mampu melawan tiga tenaga cowok. Sekarang dia sudah terlentang di atas meja dengan tangan terikat di sudut-sudut meja, kedua kakinya agak menjulur ke bawah karena mejanya tidak cukup panjang, namun kami mengikatnya secara terpisah pada dua kaki meja. Kami sendiri posisinya sekarang di samping tubuhnya. Lalu dengan sekali tarik kulepas BH-nya dan menonjollah dua bagian tokednya yang cukup padat berisi. Sekarang kami melihat sebuah tubuh yang putih mulus dan langsing dengan tonjolan toked yang bergoyang-goyang karena Anita  masih berusaha meronta. Karena meronta, terlihat CD-nya yang agak transparan semakin mengetat memperlihatkan lekuk-lekuk liang vaginanya. It's showtime! teriakku yang disambut oleh kegembiraan teman-temanku dan wajah ketakutan Anita . Aku langsung mengambil beberapa karet gelang, lalu kulingkarkan di toked Anita  sampai terlihat mengeras dan merah. Aduhhh... erang Anita , masih kutambah penderitaannya dengan menjepitkan jepitan yang biasa digunakan Aris untuk alat elektronik, bentuknya bergerigi dan terbuat dari logam tipis yang di-chrome, kujepitkan di kedua puting susunya. Aduhhh.. ahhh.. aduuhhh Anita  mengerang kesakitan
. Aris lalu memberiku sebuah alat seperti pecut, yang terbuat dari beberapa tali tampar kecil sekitar 5 buah yang salah satu ujung-ujungnya dijadikan satu pada sebuah pegangan dari rotan. Entah untuk apa alat ini biasanya digunakan Aris, pikirku, tapi peduli apa, yang penting sekarang benda ini ada gunanya.Jangan.. ampunnn Mas... pinta Anita , melihat aku mengibas-ngibaskan pecut itu. Aku tersenyum sadis, lalu tanganku kuangkat dan sebuah pecutan kuarahkan ke tokednya. Ctasss... Tubuh Anita menggelinjang, dan buah dadanya langsung bergoyang ke kanan ke kiri menahan sakit. Aduhhh... teriaknya sambil menitikkan air mata. Beberapa garis merah terlihat di kedua buah dadanya, di sekitar puting. Lagi? tanyaku kepada Anita , yang tentu saja dijawab dengan gelengan kepala, Ampunnn.. ampunnn tolonggg... rintihan bercampur tangis Anita  menjadi satu. Tanpa rasa iba pecut kuayun lagi, kali ini sasarannya adalah pahanya. Mmmpphhh... Anita  menggigit bibir bawahnya menahan sakit.
Sekali lagi kuayun pecut itu, sekarang ke arah pusar, garis-garis merah segera menghiasi tubuh Anita . Entah aku sangat menikmatinya sehingga tak terasa sudah beberapa ayunan pecut mengarah ke tubuh Anita . Tubuhnya terlihat bergetar, menggelinjang menahan sakit dan perih. Wajahnya yang basah oleh air mata dan keringat sudah benar-benar menunjukkan penderitaan. Tapi aku masih belum puas. Kulihat teman-temanku, ketiganya tersenyum seakan memberikan dukungan kepadaku untuk terus menyalurkan hasratku. Kudekati telinga Anita , dia yang sudah ketakutan padaku, dia berusaha menjauhkan kepalanya, mungkin dikiranya aku mau menggigit telinganya.
Kubisikkan sesuatu di telinga Anita , Anita , gimana kalau kita ganti alatnya, sekarang pakai ikat pinggang saja ya, bisikku sambil menyeringai sadis. Anita  menunjukkan ekspresi terkejut setengah tidak percaya bahwa dia akan menerima siksaan yang lebih hebat. Ampun... lepaskan saya... ibanya meskipun tahu aku tidak akan melepaskannya. Kubuka ikat pinggangku yang terbuat dari kulit, kulilitkan sebagian pada telapak tanganku, Anita  melirikku dengan ketakutan yang amat sangat, nafasnya tersenggal-senggal meskipun dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengaturnya. Mungkin dengan mengatur napas dia berharap sabetan ikat pinggangku tidak akan terlalu sakit. Kuangkat tinggi tanganku dan kuayunkan dengan keras, Anita  memejamkan matanya, saat ikat pinggangku mendarat di pahanya terdengar meja yang ditiduri Anita  agak berderit karena tubuh Anita  secara spontan bergetar keras menahan sakit. Ahhh.. ampun.. ampun.. hahhh.. hahhh.. Anita  berkata tersendat-sendat. Kali ini bukan hanya garis merah yang tampak, tetapi semacam jalur merah tercetak di paha Anita . Ceplasss... Ceplassss... sabetan ikat pinggangku semakin liar menghujani tubuh Anita . Anita  sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya menggeleng ke kiri ke kanan menahan penderitaan yang kuberikan. Puas dari samping, Bagaimana kalau pukulan yang mengarah langsung ke liang vaginanya? pikirku. Lalu aku mulai menyobek CD-nya dan minta kepada dua temanku untuk melepaskan ikatan kaki Anita dan mengikatnya kembali pada posisi menekuk ke atas dan mengangkang, sehingga liang vaginanya terbuka lebar. Anita  berusaha meronta dan menutup liang vaginanya dengan kakinya, namun ikatan kami cukup erat sehingga kedua kakinya tidak bisa mengatup. Persis menghadap liang vaginanya, aku mengelus-elusnya sambil tersenyum sinis. Anita  mengangkat kepalanya dan menatapku dengan pandangan nanar.
Aku mulai menjauh, ikat pinggang mulai kuputar-putar, lalu..., Ceplasss... ikat pinggang itu mendarat dengan tepat di bibir liang vagina Anita . Kali ini Anita  meronta-ronta dengan sangat dan cukup lama, tampaknya dia sangat kesakitan, kepalanya ditengadahkan ke atas sembari mengguncang-guncangkan bokongnya di atas meja. Aku berjalan ke sampingnya, Lagi? tanyaku seolah tak menghiraukan penderitaannya. Anita  tidak mengatakan apa-apa, kelihatannya dia sudah pasrah. Aku tersenyum penuh kemenangan, kusentuh bibir liang vaginanya yang tentunya masih pedih, Anita  menggelinjang, tak peduli kugesek-gesekan jariku di liang senggamanya, tubuh Anita  terus menggelinjang. Sakittt.. sakittt.. gumamnya lirih. Seolah tak peduli, kembali aku mengambil dua jepitan, dan kujepit di kedua bibir liang vagina yang memerah itu. Anita  menatapku dengan pandangan tak percaya akan kesadisanku. Oke, kataku, Tidak ada lagi pukulan..., Anita  diam saja tanpa ekspresi, ...tapi sekarang waktunya bermain lilin, lanjutku sambil menyunggingkan senyum. Kali ini Anita  menolehkan wajahnya yang layu, berkeringat dan basah karena air matanya. Bisa kubaca dalam pikirannya, Oh.. apa lagi yang akan diperbuatnya pada tubuhku.. malangnya nasibku... Memang di kamar Aris ada beberapa lilin untuk jaga-jaga jika lampu mati, ada yang kecil dan ada juga yang besar supaya awet. Kuambil Zippo-ku, kunyalakan satu lilin yang kecil. Lidah api menari berputar-putar melelehkan batang lilin yang menahannya. Menembus lidah api itu, kulihat pandangan Anita  yang berharap aku hanya bercanda. Kujawab dengan pandangan juga yang menyatakan bahwa aku serius. Segera lilin yang kupegang kumiringkan di atas toked Anita .
Kulihat ekspresi Anita  yang memandang lekat batang lilin yang terkena nyala api, pandangannya seolah berharap agar lilin tersebut tidak meleleh atau apinya tiba-tiba mati. Tapi tentu saja itu tidak terjadi, yang terjadi adalah tetesan pertama jatuh dan menetes di atas puting susu Anita  sebelah kanan. Hhhh... Anita  mendesah, punggungnya terlihat bergerak ke atas menahan panas lilin yang meleleh. Tetesan demi tetesan bergerak jatuh, dan Anita  terlihat semakin kesakitan karena tetesan tersebut jatuh di tempat bekas pecut dan sabetan ikat pinggangku tadi. Tiba-tiba teman-temanku ikut bergabung, mereka semua memegang lilin bahkan tidak hanya satu tapi tiga atau empat sekaligus. Mereka dengan gembira meneteskan ke bagian-bagian sensitif Anita , seperti buah dada, pusar, sekitar liang vagina dan paha. Kali ini Anita  seperti ular kepanasan, dia meliuk-liukkan tubuhnya menahan panas tetesan lilin. Seperti biasa, setelah puas pada bagian tubuh Anita , aku pun mengambil sebuah lilin dengan diameter yang besar dan menyalakannya. Setelah menunggu agak lama supaya lelehan lilin cukup banyak di atas lilin itu, aku kembali mengelus-elus liang vagina Anita . Anita  langsung berkata, Tidakkk.. jangan.. jangan Mas..., aku pun tersenyum penuh nafsu mendengar nada yang memelas itu. Tapi tetap saja lilin yang besar itu kumiringkan di atas liang vagina Anita , Anita  berusaha mengelak dengan menggeser bokongnya, Pintar juga dia, pikirku, tapi karena lelehan lilin ini masih banyak, dengan leluasa aku menaburkan tetesan-tetesannya ke liang vaginanya. Tak ayal bagaikan lahar panas tetesan tersebut mengalir ke liang vagina Anita  dan mungkin ke dalamnya. Errrggghhh... gumam Anita , dia langsung menggoyang-goyangkan bokongnya dan menengadahkan kepalanya menahan panas dan sakit, dengan mulutnya yang menggigit rapat dan matanya terpejam erat. Kemudian kucoba untuk memasukkan sebuah lilin kecil ke anusnya, sulit sekali karena anusnya begitu rapat, aku memasukkan jariku terlebih dahulu dan menggesek-geseknya agar anusnya membesar. Aduh.. aduh.. ucap Anita , tapi aku tidak peduli, setelah anusnya membesar mulai kutancapkan sebuah lilin di anusnya.
Dan ide cemerlangku muncul lagi, kunyalakan lilin yang menancap itu dan setelah cukup lama, kutiup apinya dan kubalik, jadi yang menancap adalah bagian yang barusan menyala. Jesss... bunyi panas lilin bercampur dengan cairan yang keluar dari anus Anita . Tentu saja Anita  menggeliat kesakitan, bokongnya dibentur-benturkannya ke meja seakan ingin melepaskan lilin yang menancap di anusnya. Aku tersenyum senang sambil kumasuk-keluarkan lilin tadi di anus Anita . Karena sudah puas menyiksa Anita , aku kasih kesempatan kepada teman-temanku untuk menyetubuhinya. Teman-temanku begitu gembira, mereka langsung beraksi, sementara aku melihat pertunjukkan ini dengan kepuasan total. Mereka melepas ikatan Anita  yang sudah tidak berdaya itu, lalu tubuhnya dibalik dan bokongnya ditarik ke atas sehingga dalam posisi menungging. Aku melihat Anita  diam saja, mungkin dia sudah capai dan pasrah serta tidak punya harapan hidup lagi. Wajahnya yang cantik terlihat sangat lesu dan seolah-olah siap diperlakukan apa saja. Mamat dengan tubuhnya yang besar mulai membuka celana dan melakukan penetrasi, langsung sodomi. Anita  membelalak tak menyangka bahwa ada benda sebesar itu yang harus masuk ke anusnya. Belum selesai dia menikmati penderitaan karena ulah Mamat, Aris langsung menyelinap ke bawah tubuh Anita  dan berusaha memasukkan kontolnya ke liang vagina Anita .
Anita  melolong kesakitan karena anus dan liang vaginanya yang sudah lecet dan perih terkena sabetan ikat pinggang dan tetesan lilin, masih harus bergesekan dengan kontol teman-temanku. Tubuhnya terguncang ke depan berulang-ulang setiap kali Mamat dan Aris menghunjamkan kontolnya. Tokednya berguncang keras persis di atas wajah Aris yang dengan penuh nafsu meremas sekuatnya. Masih tersiksa dengan keadaan begitu, Lukman mengeluarkan kepunyaannya dan minta dikaraoke oleh Anita . Rintihan Anita  menjadi tersendat-sendat karena tersedak dan batuk, Lukman bukannya kasihan malahan dia semakin terangsang sehingga dia menghunjamkan kontolnya ke mulut dan tenggorokan Anita  berulang-ulang. Aku tersenyum saja melihat kelakuan teman-temanku yang brutal, lalu kudekati Anita  sambil berkata, Anita .. punggungmu masih mulus lho.. aku cambuk ya... Karena tidak mungkin menggunakan pecut dan ikat pinggang sebab bisa mengenai Aris yang berada di bawah tubuh Anita , maka aku menggunakan rotan yang tadi sebagai pegangan untuk pecut, rotan ini ujungnya memecah sehingga sangat cocok untuk menimbulkan rasa sakit. Segera kuraih rotan itu dan kupukulkan berulang-ulang ke punggung Anita . Tubuh Anita  terlihat menggelinjang dan menggeliat seiring dengan hujaman-hujaman yang diberikan oleh Mamat, Aris dan Lukman serta siksaan cambukan rotan dariku.
Mamat yang melihat punggung Anita terkena pukulan rotanku sangat terangsang dan segera memuntahkan maninya ke liang dubur Anita , lalu dia pun mencabut batang kemaluannya. Karena bokongnya kosong, atau tidak ada orang, aku pun dengan leluasa memukul bokongnya dengan rotan. Kulihat Anita  sangat menderita, bokong yang baru saja dimasuki paksa oleh Mamat masih harus menerima siksaan rotanku. Giliran Lukman yang ejakulasi, maninya langsung menyemprot ke tenggorokan Anita , membuatnya menjadi sulit bernafas dan seperti mau muntah. Melihat begitu semakin keras kupukulkan rotan ke bokongnya, bahkan ke belahan bokongnya. Tiba-tiba Anita  lunglai, kelihatannya dia tak tahan lagi menerima siksaan kami, dia pingsan. Aris yang belum selesai masih terus melakukan aksinya, sehingga tubuh Anita  yang pingsan itu terguncang-guncang ke sana ke mari, akhirnya Aris pun mencapai puncaknya dan menyemprotkan air maninya di dalam liang vagina Anita  yang masih pingsan. Aku sendiri sudah merasa puas dengan balas dendamku ini. Kami berempat tertawa dan puas.
Kami lalu membawa tubuh Anita  untuk dibuang, sebetulnya kami ingin menyimpannya untuk kenikmatan sehari-hari tetapi terlalu beresiko. Akhirnya tubuh Anita  kami lempar di depan mall  tempat dia bekerja. Aku tersenyum puas karena sudah memberi pelajaran kepada sales promotion girl (SPG ) yang sombong itu, tapi dalam hati aku merasa ketagihan untuk menyiksa sales promotion girl(SPG ) yang lain, kusampaikan ini ke teman-temanku dan mereka semuanya setuju untuk suatu waktu menculik dan menyiksa sales promotion girl(SPG ) yang lain.

1 komentar: