Senin, 16 Januari 2012

diperkosa penjaga kebun

cerita sex ini  adalah sebuah pengalaman dari seorang yang sedang bermain di salah satu kota besar di jawa barat. mungkin cerita ini bisa dijadikan sebuah pengalaman hebat yang sangat jarang terjadi lagi mungkin. Tapi semua hal pasti akan terjadi apabila waktu yang berkata. Siang itu saya dan pacar saya baru saja pulang dari sebuah tempat wisata dikota Bekasi dengan menggunakan motor. Karena perjalanan yg lumayan jauh pacar saya bilang mau buang air kecil dulu. Akhirnya saya memutuskan untuk menepi disebuah warung kopi. Setelah pacar saya turun dia tanya ke Ibu2 penjaga warung.
“Bu Kamar mandinya sebelah mana ya?”.
“Dikebun belakang ada kamar mandi dek, Tidak jauh kok cm sekitar 500m”, Jawabnya
“Oh terima kasih bu” dan tak lama dia menoleh kepadaku
“Sayang kamu pesen minum aja dulu aku agak mules jadi mungkin agak lama”.
“Baik lah” saya menjawab sambil tersenyum.
Setelah turun saya pesan minum dan sembari menunggu saya ngobrol dengan si ibu mengenai asal usul kami berdua.
Sekilas tentang kami berdua. Kami masih sama2 menempuh kuliah disalah satu PTS ternama dikota M*****. Saya Anto dan pacar saya bernama Tari.
Tari memiliki postur yang lumayan padat , walau dia menggunakan baju tertutup dan berjilbab. Tingginya sekitar 165cm dengan kulit putih ukuran dadanya juga lumayan besar kira2 36b yang sering membuat saya berdecak kagum adalah bentuk pinggulnya yang sangat indah . Banyak yang bilang saya pemuda beruntung karena bisa mendapatkan Tari.

Sekitar setengah jam saya menunggu Tari belum juga muncul. Akhirnya saya berniat menyusul sekalian kencing juga pikirku. Setelah menitipkan motor dan tas ke ibu penjaga warung saya berjalan menyusuri kebun tebu yang lumayan rindang dan sepi. Setibanya dikamar mandi dimaksud si ibu saya sempet bingung. Kok Tari gak ada. Akhirnya saya putuskan untuk kembali kewarung mungkin aja si Tari udah balik. Ditengah jalan saya sempat melihat sebuah rumah kecil dari kayu. Letaknya agak tersembunyi mungkin klo orang tidak memperhatikan tidak akan yang tau kalau disitu ada rumah . Tapi yang membuat saya penasaran sekaligus berdegup saya mendengar suara rintihan seorang wanita dari arah rumah kecil itu.
Lewat celah jendela saya coba mengintip apa yang sedang terjadi didalam. Saya terdiam ketika tau apa yang sedang terjadi disana. Tari sedang duduk disebuah diranjang kayu sedang diisap vaginanya oleh seorang bapak2 tua dengan perawakan hitam besar dan hanya menggunakan sarung. Dengan baju terusannya yang terangkat sampai perut dan legging beserta CDnya yang sudah melorot sedengkul, Tari meracau “Paaaaacccchhkk Jangghhhaaan” tapi tangannya menggengam erat kepala si bapak seperti tak mau melepasnya. Saya dapat melihat jelas vagina yang memang baru saja dicukur itu dilahap dengan rakus oleh sibapak sambil sesekali tangannya yang besar tadi memilin itilnya Tari. Dengan suaranya yang makin merintih Tari terus meracau , ” Paaaaaaccck Janggggaaaaan Nantiii Paccccchaar Saaaaayaa Leeewaaaaaat “. 10 menit gerakan pinggul Tari semakin menggila mengikuti gerakan tangan si bapak yang memang dari tadi mengocok-ngocok vagina Tari. Dan semenit kemudian Tari mengerang panjang sambil pinggulnya mengangkat keatas ” Paaaackkhhh Taaariiii Keeeeeluaaarrrhh “…….” Aaaaccchhhhh “.

Gila itu orgasme pertamanya tanpa penetrasi pikirku. Ya kami memang sering ML dan saya juga lelaki yang telah membobol Tari. Tapi baru kali ini saya melihat dia orgasme pada saat permainan belum dimulai.
Bapak itu bangun dan dengan tersenyum dia bertanya “Enak sayang ?”.
Dengan nafas yang masih ngos-ngosan Tari tidak menjawab hanya menganggukan kepala. Tidak berapa lama si bapak melepas sarungnya seketika itu pula saya dapat melihat penis seukuran terong jumbo berurat dengan kepala sebesar bola golf bak topi tentara sedang mengacung tegak dihadapan wajah Tari. Saya sempat minder melihat penis si bapak itu.
Bapak itu tersenyum sambil berbicara. “Saya tau kamu sudah tidak perawan lagi, Tapi coba lihat lebih besar mana ? Dibandingkan punya kekasihmu”.
Tak ada jawaban dari Tari tapi yang saya lihat tatapan mata Tari berubah dia seperti kaget, takut, penasaran, terpesona, dan kagum karena memang Tari biasanya Cuma melihat penis saya yang berukuran standard. Tanpa aba2 si bapak memegang tangan Tari dan coba ngarahkannya ke penis raksasa itu. Dan dengan komando dari sibapak Tari mulai mengocok penis itu. Pernah suatu hari kami menonton film blue dikost saya dan dengan polos Tari bertanya “ Kok bisa ya anunya sebesar botol gitu ?“,saya hanya tersenyum dan bilang “Namanya juga film”. Tapi entah apa yang ada dibenak Tari saat ini dengan Penis raksasa digengamannya. Tangan kanan si bapak coba untuk mendekatkan wajah Tari kepenisnya. Mau pingsan rasanya saat melihat Tari tanpa komando dari bapak tua itu dia mulai menjilat leher penis itu. Layaknya artis film Tari mengocok sambil sesekali memasukan penis itu kemulutnya agak susah awalnya menelan semua penis itu kemulutnya tapi Tari terlihat sangat lihai. Dengan masih memakai jilbabnya Tari terus bekerja. Sambil mengerang keenakan tangan sibapak juga bergerilya divagina Tari “Wuueeenaaachhkk Caaahhk Aayuuu”, ujarnya. Hampir beberapa menit lamanya saya menyaksikan adegan panas itu. Sibapak kemudian memegang pinggul Tari dan membangunkannya, Dia langsung melumat bibir mungil Tari sambil tangannya membuka resleting belakang baju Tari sambil kakinya menginjak legging yang sedari tadi masih tersanggut dikaki Tari setelah bajunya terjatuh sibapak coba melepas kaitan bra. Dan akhinya saya melihat mereka berdua benar bugil sambil berciuman, layaknya sepasang kekasih. Tangan Tari menggengam erat penis si bapak seakan tak mau melepasnya.

Sampai akhirnya Tari dibaringkan dikasur kayu. Sibapak yang terlihat mulai tidak sabar diarahkannya rudalnya kebibir vagina, digesek2 sebentar setelah merasa cukup licin penis itu mulai menerobos vagina Tari. “ Pelan2 ya pak…aku takut sakit”, ucap Tari. “Tenang cah ayu awalnya memang sedikit sakit tapi lama2 pasti kamu suka “.
Bukannya melakukan sesuatu, saya malah seperti terhipnotis untuk melihat vagina Tari sedang dipaksa menelan Pisan Ambon. Terlihat jelas dari arah saya mengintip penis itu dimasukan dan ditarik begitu seterusnya sampai akhirnya seluruh penis itu lenyap ditelan vagina Tari saya sampai terheran2 melihat peristiwa itu Terdengar erangan Tari “sssssshhhhhh aaccch”. “Paaaacccchhhk’’. Pelan2 bapak tua itu mulai menggoyangkan penisnya diliang vagina Tari. Bibir vaginanya sampai ikut tertarik kedalam mengikuti gerakan penis besar itu. Sibapak baru mulai mempercepat goyanganya Tari sudah mengangkat pinggulnya keatas dan kemudian mengejang. “ Paaccccchkkk……..Aaccchhkkkuu keluaaaaaarrrrhhh”. Ujar Tari setengah berteriak. Tampak ada cairan bening muncrat dari vagina Tari.
“Haaaaah…!!!” Saya terkejut melihat Tari, karena biasanya dia harus berjuang keras untuk bisa orgasme dengan saya. Bapak itu sangat pengertian dengan Tari dia melepaskan penisnya dan dalam sekejap dia membalikan tubuh lemah Tari keatas tubuh kekarnya. Tari membuka jilbabnya dan keringat mengucur deras dari dahinya. Tangan Tari coba meraih batang penis itu untuk kemudian memasukkanya lagi kelobang vagina milliknya. Pinggul Tari mulai bergoyang. Tangan Tari meraih kepala bandot tua itu dan dengan semangat sibandot menghisap kedua payudara yang tadinya hanya milik saya.”Isaaaaphh Teeeruusssh Sayaaaangghh” Tari terus meracau. Belum pernah saya melihat Tari bergoyang seliar itu padahal dia sudah 2 kali orgasme. Tanpa sadar saya mengeluarkan penis dan mulai beronani. Beberapa detik berselang Tari kembali orgasme. Berbarengan dengan saya yang juga mengeluarkan mani saya dibalik rumah itu.

Tari terlihat sangat lemas. Dia kembali dibaringkan dan bapak tua itu bersiap menindihnya. Vagina Tari sudah sangat banjir. Kecipak seperti suara air terdengar ketika penis itu kembali mengobok-obok seisi vagina tari. “Leeeebiiih Keeeeraasssh Paaackhhh” ucapan Tari semakin kacau. “krrrrraaaaaak … !!”, Saya sempat menginjak batang kayu dan bapak tua itu mendengar dia menghentikan goyangannya sambil berteriak, “Sopo Kui…!!! (Siapa Itu) “,hardiknya tapi tangan Tari meraih wajah Bapak tua itu “ Sudah pak paling kucing aku lagi tanggung nih…” ujar Tari sambil tersenyum dan kemudian melumat mesra bibir bandot tengik itu. Untung saja pikirku. Dan pertempuran kembali dilanjutkan. Hampir 20 menit Tari digenjot bapak tua itu. Entah berapa kali Tari mengalami orgasme karena hanya erangan demi erangan selalu keluar dari bibir mungil itu . Semakin lama goyangan sibapak semakin tidak beraturan. “ Aaaccchhkuuu Mauuuuhh Keeeluuuaarrrh Saayaangghhh ”. Kata si bapak tiba2. Bukannya melepas tubuhnya tangan Tari malah semakin menekan pantat hitam sibapak dan membuat penisnya makin dalam menghujam liang vagina itu. Dan crot crot crot bapak tua itu menumpahkan semua spermanya didalam vagina. Ada perasaan benci melihat kejadian itu karena Tari tidak pernah mau kalo saya muncrat didalam. Takut hamil katanya. Tapi kali ini Tari malah memeluk erat bandot biadab itu sambil menciumnya dan membiarkan penis itu masih menancap didalam liang vaginanya. Seakan tidak cukup menampung sperma, vagina tari mengeluarkan banyak cairan putih kental dari dalamnya. Yakin mereka akan menyudahi pertarungannya saya bergegas kembali kewarung kopi tadi. Dengan perasaan masih tidak karuan saya duduk di warung tadi. Selang beberapa menit Tari muncul. Lengkap dengan pakainnya sewaktu dia pergi kekamar mandi tadi.
“ Sayang maaf ya lama banget… Gak tau nih tiba2 aja perutku mules banget jadi lama deh..” ujarnya sambil memelas, “ gak apa2 kok “ jawabku datar.
“ Kamu udah ngopinya, jalan lagi yuu “. Dan setelah berpamitan kepada si ibu kami kembali pulang.
Setelah kejadian itu hampir setiap akhir pekan Tari selalu pergi , kerumah temannya diB***** katanya. Dan dia selalu memelih untuk naik kendaraan umum. Pernah suatu waktu saya menemukan beberapa kondom yang belum terpakai ditasnya. Anehnya saya tidak pernah berani untuk menanyakan hal ini ke Tari. Saya juga merasakan keanehan ketika kami ML dia seperti males2an dan tidak semangat. Kadang saya bingung karena saya masih sangat mencintainya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar